Rabu, 07 Mei 2008

Rinduku pada Ibu

Bismillahirahmanirrahim……..

Rinduku pada Ibu….

Ibu… Masih dapat kurasakan betapa lembutnya tanganmu saat membelaiku.

Bijak tutur katamu mampu melerai segala perselisihan anak-anakmu,

Kau curahkan segala kasih sayangmu tanpa peduli kau sendiri menderita payah,

Saat malam datang dan disana hanya ada sepotong roti untuk mengganjal perut, kau selalu memberikannya pada anak-anakmu. Kau tak pernah mempedulikan keadaanmu dan kau tak pernah perduli pada rasa sakit dan lelah yang setiap saat menggerogoti tubuhmu.

Ibu, rasa rindumu selalu kau pendam hanya untuk melihatku bahagia dengan sejuta aktivitas yang aku jalani di perantauan ini.

Besar hatimu membuatku kokoh berdiri dalam jalan ini. Kau mampu merelakanku disini. Engkau mampu menepiskan jutaan rasa rindumu hanya untuk sebuah pedoman “aku tak ingin mengganggu aktifitas anakku, aku tak ingin membuyarkan konsentrasi belajarnya, aku tak ingin menjadi beban baginya, dan aku sangat ingin melihatnya hidup bahagia. Tak apalah ia lupa akan aku, yang terpenting cinta dan kasih sayangku tetap aku curahkan padanya dan kusampaikan lewat Sang Pemilik Hati hingga Ia menyampaikan perasaan ini pada hati anakku tercinta yang berada jauh dari batas penglihatanku”

Ibu, betapa besarpun harta yang aku bayar tak akan pernah mampu untuk membalas segala pengorbananmu, semua tetes keringatmu, semua keluh kesah yang hanya mampu kau curahkan kepada Sang Pencipta, serta semua doa suci yang senantiasa mengiringiku disetiap desah nafas yang terhembus dari kedua lubang hidungku.

Ibu… Aku disini, di sebuah tempat yang jauh darimu, tapi aku dapat merasakan betapa dekatnya hatimu kau hantarkan pada hatiku. Walau terkadang dengan sengaja aku mengelaknya. Aku sering mengacuhkan pertanyaanmu yang memiliki arti yang begitu besar bagimu, namun sekali lagi aku sering mengacuhkan hal itu “kapan kamu pulang nak?” Demikianlah pertanyaanmu yang mengandung berjuta makna rindu namun tak pernah sekalipun aku menanggapinya dengan serius.

Astaghfirullahaladzim.....

Ibu... Ampuni aku yang selalu bermuka manis dihadapanmu dan merengek-rengek minta diperhatikan ketika uang disaku mulai menipis, namun aku tak pernah perduli ketika engkau mengharapkan perhatian dariku. Ampuni aku ibu....

Ibu... Tak mungkin ada aku jika engkau tak rela menahan rasa sakit yang teramat sangat saat meregang nyawa demi keselamatanku, namun aku tak pernah perduli dengan keselamatanmu, astaghfirullahaladzim.... ampuni aku ibu.... ampuni aku Ya Allah...

Ibu... Semoga suatu saat jika waktu itu tiba, aku akan kembali padamu dengan membawa berjuta kebahagiaan yang mampu mengejutkanmu dan membuatmu menitikkan air mata seraya berkata, “aku sayang kamu nak, aku bangga padamu” Amin ya rabbalalamin...

Tidak ada komentar: